Loyalty System HEC 2 PARE

HEC 2 PARE KAMPUNG INGGRIS

HEC 2 PROFILE

Dewasa ini masih banyak penduduk usia produktif tidak sekolah, tidak bekerja dan hidup dalam kemiskinan. Sebenarnya penduduk usia produktif tersebut bisa diberdayakan, sehingga mampu mengurangi angka pengangguran.

Saat ini, dunia pendidikan Indonesia menghadapi tiga tantangan besar. Tantangan tersebut adalah Pertama, sebagai akibat dari krisis moneter atau ekonomi, dunia pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua, untuk mengantisipasi era globalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan siap agar mampu bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian sistem pendidikan nasional sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keberagamaan kebutuhan atau keadaan daerah dan peserta didik, serta mendorong partisipasi masyarakat (Depdiknas Dirjen PLSP, 2002 : 1).

Peningkatan mutu pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan merupakan prioritas utama dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Peningkatan mutu pendidikan dimaksudkan agar pendidikan dapat mengikuti serta mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemajuan pembangunan yang semakin cepat memerlukan dukungan sumber daya manusia yang tangguh, terarah, terpadu dan menyeluruh tersebut, salah satunya adalah melalui pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai suatu cara untuk meningkatkan kualitas, harkat dan martabat manusia. Pendidikan juga di pandang sebagai salah satu sarana dalam meningkatkan kemampuan dan ketrampilan seseorang.

Demi meningkatkan kualitas lembaga pendidikan, maka pemerintah dan masyarakat memiliki tanggung jawab dalam pendidikan dan diharapkan dapat menghasilkan tenaga–tenaga terdidik dan terlatih sehingga dalam proses selanjutnya akan memiliki kemampuan yang professional baik dalam bekerja maupun berkarya.

Kebijakan Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan antara lain adalah dengan cara pemberianbantuan alat atau sarana dan prasarana pendidikan guna kemajuan sekolah (Depdikbud, 1996: 5).

Tujuan Pendidikan nasional yang sekarang berlaku mengacu berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV, Pasal 3. Bunyi pasal ini selengkapnya “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, sehat, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pendidikan Nasional yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa diselenggarakan secara terpadu dan diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan dasar serta jumlah dan kualitas pendidikan kejuruan, sehingga memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pendidikan dapat bersifat formal, nonformal dan informal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang terdiri dari pendidikan dasar (SD dan SMP), pendidikan menengah (SMA/SMK) dan pendidikan tinggi (perguruan tinggi). Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal, yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang (seperti kejar paket A, Kejar Paket B, dan kejar paket C). Pendidikan informal adalah pendidikan keluarga dan lingkungan. (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 th 2003)

Pendidikan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan derajat manusia dari masa kemasa karena dengan diadakannya pendidikan yang baik maka didapatkan kemajuan dalam pola berpikir serta dalam jangka panjang dapat meningkatkan peradaban manusia itu sendiri. Proses pendidikan yang selalu berubah mengakibatkan terjadinya perubahan pada setiap individu.

Proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan secara umum melibatkan empat buah komponen utama, yaitu murid, guru, lingkungan belajar dan materi pelajaran.

Keempat komponen ini mempengaruhi murid dalam mencapai tujuan belajarnya. Tentunya setiap murid mempunyai berbagai tingkat kemampuan yang berlainan ditinjau dari aspek daya tangkap, pengetahuan yang dimilikinya dalam bidang yang akan dipelajari (prior knowledge), motivasi belajar, ketrampilan belajar (learning skill), tujuan untuk belajar dll.

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) sebagai salah satu jalur pendidikan. Sistem Pendidikan Nasional mempunyai tujuan antara lain untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi oleh jalur Pendidikan Sekolah. Philip H Combs menegaskan bahwa Pendidikan Non Formal adalah setiap pendidikan yang terorganisasi diluar sistem Pendidikan Formal diselenggarakan secara tersendiri atau merupakan bagian penting dari suatu kegiatan yang lebih luas dan ditujukan pada warga belajar didalam mencapai tujuan belajar. (Joesoef, 1992:50).

Kelembagaan Pendidikan Nonformal (PNF) adalah setiap lembaga pendidikan baik yang diprakarsai oleh pemerintah atau masyarakat yang menyelenggarakan pelayanan pendidikan non formal bagi masyarakat. Lembaga pendidikan yang melaksanakan layanan pendidikan non formal antara lain :

  1. Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BP- PLSP) : adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional di bidang pendidikan luar sekolah. BP-PLSP mempunyai tugas melaksanakan pengkajian dan pengembangan program serta fasilitasi pengembangan sumberdaya pendidikan luar sekolah berdasarkan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional.
  2. Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB): adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Dinas Pendidikan Propinsi di bidang pendidikan luar sekolah. BPKB mempunyai tugas untuk mengembangkan model program pendidikan luar sekolah sesuai dengan kebijakan Dinas Pendidikan Propinsi dan kharakteristik propinsinya.
  3. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB): adalah unit pelaksana teknis Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota di bidang pendidikan luar sekolah (nonformal). SKB secara umum mempunyai tugas membuat percontohan program pendidikan nonformal, mengembangkan bahan belajar muatan lokal sesuai dengan kebijakan dinas pendidikan kabupaten/kota dan potensi lokal setiap daerah.
  4. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM): suatu lembaga milik masyarakat yang pengelolaannya menggunakan azas dari, oleh dan untuk masyarakat. PKBM ini merupakan wahana pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat sehingga mereka semakin mampu untuk memenuhi kebutuhan belajarnya sendiri. PKBM merupakan sumber informasi dan penyelenggaraan berbagai kegiatan belajar pendidikan kecakapan hidup sebagai perwujudan pendidikan sepanjang hayat
  5. Lembaga Pendidikan Non Formal (PNF) sejenis: adalah lembaga pendidikan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, yang memberikan pelayanan pendidikan nonformal berorientasi life skills/keterampilan dan tidak tergolong ke dalam kategori-katagori di atas, seperti; LPTM, Organisasi Perempuan, LSM dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Ciri khas pendidikan Luar Sekolah yang fleksibel dalam hal waktu, tempat, cara dan program belajar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam dan cepat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat (Direktorat Pedidikan Luar Sekolah, 2002:1).

PLS telah mampu memberikan aksebilitas yang luar biasa pada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya yang tidak bisa dipenuhi oleh jalur pendidikan pada jalur sekolah. Kehandalan PLS mampu memberikan akses pada masyarakat agar mereka mau belajar.

Fakta inilah Pendidikan Luar Sekolah dapat memberikan ruang yang luas pada masyarakat untuk berperan serta sebagai pelaksana, pengembang, pelembaga, dan pemanfaat program PLS untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang terus berubah setiap saat. Metode belajar PLS yang fleksibel dalam hal waktu, tempat, cara dan program belajar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam dan cepat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat.

Kaitannya dalam pembangunan masyarakat, pendidikan luar sekolah dapat berperan dalam tiga hal.

Pertama, menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya upaya mereka untuk membebaskan diri dari kebodohan, dari imbalan atau upah kerja yang rendah, dan adanya ketidak adilan dalam masyarakat. Proses penyadaran tersebut dapat ditempuh melalui pendidikan keaksaraan, latihan keterampilan fungsional untuk meningkatkan pendapatan, melakukan penyuluhan, dan perjuangan masyarakat untuk memperoleh keadilan.

Kedua, membantu masyarakat untuk biasa hidup berorganisasi sehingga secara bersama mereka dapat mempelajari keadaan kehidupannya serta menjagai berbagai kesempatan yang berkaitan dengan pekerjaan, lapangan usaha, dan kemudahan yang dapat diperoleh seperti pemebrian kredit modal, bahan baku, dan alat yang dibutuhkan, serta pemasaran dan informasi yang diperlukan.

Ketiga, para pendidik dan tutor bekerja bersama organisasi masyarakat dan anggota masyarakat dalam upaya mengidentifikasi kebutuhan, sumber, dan kemungkinan hambatan, serta mendayagunakan prasarana sosial, politik, dan lingkungan masyarakat untuk membantu masyarakat agar mereka dapat memecahkan masalah sosial-ekonomi yang dihadapi dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan kehidupannya. (Sudjana 2001:261)

Hubungannya dengan manajemen operasional pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan latihan, Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 34 Tahun 1972 tentang tanggung jawab Fungsional Pendidikan dan Latihan, serta Instruksi Presiden (Inpres) No. 15 Tahun 1974 pelaksanaan Kepres tersebut. Inpres ini memuat pembidangan pembinaan pendidikan dan latihan sebagai berikut:

  1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan selaku Pembina fungsional Pendidikan dan Kejuruan,
  1. Departemen Tenaga Kerja selaku Pembina fungsional latihan kerja bukan pegawai negeri,
  1. Lembaga Administrasi Negara selaku Pembina fungsional pendidikan dan latihan bagi pegawai negeri sipil. (Sudjana 2001 : 143)

Semakin berkembangnya dunia, peran bahasa inggris tidak mungkin diabaikan begitu saja. Tentunya belajar bahasa inggris tanpa masalah untuk dapat diterima oleh masyarakat. Masalah seperti malas belajar, atau ketidakseriusan, kesiapan mental dan juga harga kursus yang relatif masih cukup mahal perlu ditanggulangi.

Kabupaten Kediri  merupakan bagian dari propinsi Jawa Timur yang cukup potensial bagi perkembangan pendidikan, baik itu pendidikan formal, pendidikan luar sekolah atau pendidikan keterampilan lain, karena di Kabupaten Pare terdapat banyak SMA dan Kejuruan serta tingkat SMP-nya, sementara jumlah angka usia produktif sangat banyak dan sangat memerlukan pendidikan kursus agar kelak bisa dijadikan bekal untuk bekerja.

Tahun 1976 di Pare belum ada pendidikan keterampilan di luar sekolah walaupun yang dikelola secara sederahana, mengingat banyak sekali SMA dan Kejuruan yang ada di Pemalang tetapi lembaga keterampilan yang mendidik siswa menjadi tenaga trampil, maka muncul pemikiran untuk mengelola suatu lembaga pendidikan keterampilan yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat dipelopori oleh Bapak Kalen Osein Pendiri BEC, oleh karena itu pada tanggal 15 Juni 1977 Basic English Course (BEC) berdiri di Pare Kediri  membuka program belajar tentang bahasa Inggris. Sebagai Pendiri Kampung Inggris pare, BEC membuka cabang resmi salah satu nya Happy English Course 2 (HEC 2) yang berlokasi di Jalan Pinang 3C, Singgahan Pelem – Pare, Kediri. HEC 2 memiliki berbagai macam keunggulan dari sisi Fasilitas dan Metode Pembelajaran tentunya juga dengan Harga Kursus yang relative terjangkau.

Kalian Pasti Bertanya

  1. Bagaimanakah model pembelajaran kursus bahasa inggris di Happy English Course 2?
  2. Apa saja fasilitas di Happy Englilsh Course 2 ?
  3. Apakah yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran ini?

ISI FORM PENDAFTARAN HEC 2 DISINI

Hanya diisi untuk Pilihan Program TC dan LS. Contoh A / B / C
Hanya diisi untuk Pilihan Program TC dan LS. Contoh DJF / SON / MAM
Hanya diisi untuk Pilihan Program TC dan LS. Contoh 50
Lakukan pembayaran Via Transfer Bank di Nomor Rekening *Bank Mandiri a/n ERNA ZULIANA 1710005725018. Atau *Bank BRI a/n ERNA ZULIANA 003301022632539. Cek email balasan pendaftaran di email kalian. Konfirmasi pendaftaran via Whatsapp Admin HEC 2 di nomor 085736140562. >>Chat Admin HEC 2.